Beatrix Yunarti Manehat

Di dalam kegelapan malam, kumerenung menatap dalam pada langit langit kamar. Alunan musik sendu membawaku terbang semakin jauh. Aku terbuai jauh dalam kenangan masa lalu, aku terpenjara dalam hari-hari yang dilewati. Pengalaman-pengalaman yang terus saja berulang walau datang dalam sosok yang berbeda.
Perlahan air mata bercucuran deras. Hati seolah teriris pilu. Pertanyaaan yang mengelilingi benakku terus menggores hati dan menimbulkan pertanyaan yang sulit dijawab.
Adakah orang yang benar-benar tulus di dunia ini?
Adakah orang yang saat memujimu dan tidak ada maksud yang tersembunyi di belakangnya?
Adakah orang yang bisa menemukanmu di keterpurukan dan masih setia menggenggam tanganmu?
Adakah?
Adakah orang yang kau undang datang tetap datang di tengah hujan badai?
Adakah orang yang datang tanpa beribu-ribu alasan seolah dia dihambat tsunami besar?
Adakah orang yang tulus mengagumimu tanpa berpikir jabatan apa yang akan didapatkannya ketika mendekatimu?
Adakah orang di ujung dunia ini yang bersedia ada tanpa kamu bersungut-sungut meminta mereka untuk datang?
Adakah mereka yang memanggilmu dengan sebutan tertentu tanpa ada pikiran mendapatkan uang dari panggilan penghargaan itu?
Adakah yang tulus mengikutimu tanpa bersungut penuh amarah di belakangmu dan memasang wajah bahagia didepanmu?
Adakah mereka yang tak memakai topeng kepura-puraan di depanmu?
Adakah yang tulus memuji mu saat ada atau tidak adanya dirimu?
Adakah?
Adakah yang seperti bintang, yang tetap menyinari malammu saat tingkah pagimu kurang membuatnya diuntungkan?
Ah, adakah?


Tentang penulis
Beatrix Yunarti Manehat, Lahir di Boronubaen, Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kota Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Beatrix telah menyelesaikan pendidikan S1 Akuntansi di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dan S2 Akuntansi di Universitas Brawijaya Malang pada 2019, Ia juga mendirikan Melki n Beatrix (MnB) Foundation pada 14 Desember 2014 dan bergerak di bidang pendidikan. Ia juga menaruh minat pada dunia sastra, dan telah terbitkan 3 Novel.

Previous post Yen Metu Kudu Sing Mempeng, Yen Mbelu Kudu Sing Kenceng
Next post Jenderal Listyo Sigit “Kami tidak berani ke mana-mana sebelum bertemu dengan Pak Kiai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.