PUISI-PUISI IAN CK

Pengakuan

Kala tubuh dilanda tuduh
Di tengah suara penuh peluh
Luruh jiwa berkeping retak
Salah aku menilai
Setitik noda jatuh
menghitam putih.

Sudut mata berlipat pandang
Jarak jadi setengah hitungan

Kepada hati yang melempar api
Nyala menyilat mata
Membakar tubuh selesai
Jadi tumpukkan abu
Hilang bersama angin dan bayangan

Pengakuan di ruas ingatan;
Tidak ada manusia mati karena lupa.

Kupang, 2019

Di Rumah Martina

Usai mendoakan lipat tidur kekasihnya
dijumpai sisi kanan rumah telah tergerus angin.
Mata Martina peluk sibuk sepagi buta
membereskan dapur dan halaman hatinya
ramai oleh riak suara.
Aroma tubuhnya asap dapur.

Di rumah Martina
doa adalah masakan paling gurih
Ketika kehabisan akal mencari nafkah
Ia menumis diri dalam wajan
Kenyang seisi rumah.

Betapa murni hatimu, Martina
Selalu hangus oleh api.

Atambua, 2019

Musim Kemarau

Aku tiba di musim kemarau
Tanah telah memecah diri jadi bilangan prima
Pohon-pohon jati telanjang
Matahari memeras air mata
Hati rakyat merah oleh sebab gagal panen.

Siapa ingin jadi hujan?
Memulihkan tanah, melipatgandakan kesuburan
Kenakan pakaian hijau
Menahan cara kerja semesta

Tanyakan segalanya pada Tuhan!
Pemilik musim-musim hidup manusia.

Kupang, 2020

Paskah Belum Selesai

Sudah tiga hari, maka Tuhan bangkit!
Kain peluh, kain kafan tertinggal di sana.
Kubur kosong.
Hati penuh teka-teki
Dimana Tuhan ?
Sebuah kalimat perintah muncul bagaikan pedang
Menghunus ketakutan menjadi berkeping-keping.
“Tuhan menanti di Galilea”
Petrus, berlari melupakan penyangkalan
Menebus janji yang pernah ingkar.

Minggu paskah belum selesai
Pandemi belum purna
Tetiba badai merebut seluruh hari
Porak poranda tawa

Mata semesta terbuka hijau
Memerhatikanmu teguh aluri kehidupan
Laburi duka
Susun jari berdoa
Susur sedih di pematang sawah.
Merengkuh tangan yang datang
setelah segalanya hilang tanpa perintah.

Belarasa timbul bagaikan gulungan tsunami
Menghapus bangunan hati yang luluh lantak
Kemanusiaan sunyi di tepian badai
Hujan gigil di atas sana
Angin malu-malu di depan mata

Isyarat pemberian bukan hiburan, bukan pameran
Tuhan memberi sampai kesudahan-Nya

Penfui, 2021

Tentang Penulis

Ian CK, lahir di Atambua, 6 Agustus 1993. Tinggal di kota Kupang. Saat ini bergiat di Komunitas Filokalia Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang. Akun IG: @iankale.93.

Previous post Ancaman Baru Covid19 di Posko Pengungsian
Next post Hanya 10 menit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.