3 M: Manusia Menakuti Manusia

Resiko gangguan psikologis sangat nyata, seperti tertekan, depresi, kegelisahan atau gangguan tidur yang mungkin terbawa hingga dewasa. Biasanya juga diikuti masalah kesehatan fisik: sakit kepala, perut, ketegangan otot serta rasa tidak nyaman akibat tertekan. Semangat belajar dan prestasi akademis terganggu. Pada tahap ekstrim, korban bully bisa melampiaskan kemarahan dengan membunuh pelaku bully atau membunuh diri sendiri. Seorang remaja berusia 15 tahun di Denpasar, membunuh temannya sebab sering kena bully sejak kelas 1 SMP.

Perilaku bullying berkontribusi besar pada kekerasan serta kematian. Termasuk yang marak terjadi, korban bully menjadi pelaku bunuh diri. Korban bully sangat mungkin merespons dengan kekerasan. Entah dalam bentuk kemarahan, menyerang bahkan membunuh. Sebab merasa harga diri dan martabatnya sebagai manusia diobrak-abrik. Sebagaimana ide menyerang atau membunuh memang melekat dalam diri manusia (animal instinct).

Menurut penelitian, 91 persen laki-laki dan 84 persen wanita pasti pernah berpikir untuk membunuh seseorang. Hal ini didukung penjelasan ahli saraf bahwa kekerasan fisik dan psikis akan memancing otak untuk memompa naluri agresif. Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat antara tahun 2011-2019, terdapat 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Bullying di lingkungan pendidikan dan sosial media sebanyak 2.473 laporan dan trennya terus meningkat (sumber: jabar.tribunnews.com).

Previous post Kisah Pilu
Next post PT Karya Anjani Nusantara Bakal Jadikan Pulau Semau Destinasi Wisata Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.