3 M: Manusia Menakuti Manusia

Bullying (bully) terjadi dimana-mana. Lingkungan rumah termasuk keluarga. Dasyatnya bully, bahkan anak yang baru lahir ke dunia, bisa dengan mudah jadi korban bully, entah karena warna kulitnya, fisiologis, atau cara menangisnya. Fakta umum juga mengetengahkan pola asuh kita. Bagaimana anak yang terbiasa menerima hukuman secara berlebihan, lewat agresi dan permusuhan, sangat rentan membentuk persepsi bahwa orang yang memiliki kekuatan “diperbolehkan” berlaku agresif demi meningkatkan status dan kekuasaannya.

Dalam lingkungan sekolah, bullying sering kali berujung kematian. Minimal kekerasan fisik. Bullying (masih) dianggap candaan antara sesama siswa. Lebih sering dibiarkan. Begitu pula pada pergaulan sosial, komunitas, kelompok homogen, organisasi, ruang-ruang akademis, dan semacamnya.

Berdasar jenis, bullying meliputi bullying fisik, lebih mudah diidentifikasi. Seperti: memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, meludahi, atau menghancurkan pakaian serta barang. Bullying verbal, cenderung berupa julukan nama, celaan fitnah, kritik kejam, penghinaan dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Disamping itu, dapat berupa perampasan barang, telepon yang kasar, email yang mengintimidasi, surat kaleng yang berisi ancaman, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji, serta gosip. Bullying relasional, paling sulit dideteksi dari luar, sebab lebih cenderung pelemahan terhadap harga diri seseorang (Coloroso, 2007).

Previous post Kisah Pilu
Next post PT Karya Anjani Nusantara Bakal Jadikan Pulau Semau Destinasi Wisata Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.