MENANGKAL VIRUS EKONOMI NEOKOLONIALISME DI INDONESIA

Beatrix Yunarti Manehat, SE., MSA

Dewasa ini siapa warga Indonesia yang tidak mengenal garam yodium, gula dan kelapa? Saya yakin semua individu di negara ini familiar dengan produk-produk kebutuhan utama tersebut. Tidak hanya berperan dalam memenuhi hasrat konsumsi masyarakat, produk-produk ini juga sebenarnya pernah membawa Indonesia pada masa kejayaan ekonomi.

Pada tahun 1998 kelapa yang kemudian diolah menjadi minyak di Provinsi Sulawesi Barat mampu menghasilkan produksi hingga 4,96 Milyar (DM, Ary & Harlan, 2012:3). Selain itu produksi ini tergolong menumbuhkan ekonomi masyarakat karena bahan baku (kelapa) yang mayoritas tumbuh di Indonesia. Kejayaana ekonomi berbasis masyarakat ini harus gulung tikar saat perang anti kelapa yang disosialisasikan oleh Amerika Serikat serta didukung oleh pemerintah Indonesia melalui otoritas kesehatan dalam negeri dengan turut mengiyakan aksi minyak kelapa berbahaya (DM, Ary & Harlan, 2012:8).

Tidak jauh berbeda dengan kelapa, garam dan gula juga terjangkit virus ekonomi neokolonialisme. Indonesia yang pada tahun 1930-an menduduki posisi penghasil gula terbesar ke dua di dunia, saat ini harus merangkak sebagai negara pengimpor gula terbesar sejak International Monetary Fund (IMF) mendesak pemerintah Indonesia membebaskan tata niaga pertanian termasuk gula mulai tahun 1998 (DM, Ary & Harlan, 2012:11) .

Selanjutnya, menurut DM, Ary & Harlan (2012:11) Akzo Nobel perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Belanda berhasil menggoyahkan industri garam nasional dengan semboyan garam beryodium. Pemerintah Indonesiapun turut bangga mendukung kampanye ini dengan mengeluarkan Keputusan Presiden No.69 Tahun 1994 tanpa secara cermat memperhatikan solusi bagi nasib masyarakat Indonesia yang telah menjadikan garam sebagai sumber penghasilan utama. Kejayaan produk-produk ini yang kemudia sempat membawa masyarakat Indonesia pada masa kejayaan ekonomi akhirnya harus menjadi cerita belaka. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa negara-negara hebat tidak lagi menjajah dengan peperangan yang secara langsung terlihat dan terasa menyakitkan. Penjajahan dilakukan dilakukan dengan sangat halus sampai masyarakat tidak merasa sedang dijajah.

Previous post Orang Mati Ditertawakan
Next post Kamu Sang Generasi Penerus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.