Memberdayakan Generasi Muda Lewat Sanggar Seni Sebagai Upaya Pelestarian Terhadap Budaya Warisan Leluhur.

Sandalwood   namanya, salah satu sanggar seni yang didirkan beberapa orang muda asal kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) , Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 4 April 2018 lalu di kota Kefamenanu, nama-nama tersebut antara lain, Filho Da Silva, Wira Beyleto, Mila Kesa dan  Jose Araujo.

Alasan didirikannya sanggar tersebut merupakan sebuah keprihatinan Filho dan kawan-kawannya terhadap kehidupan anak-anak muda yang membuang waktu mereka untuk  hal-hal yang tidak memilik manfaat bagi kehidupan mereka sendiri, salah satunya kebiasaan miras yang sudah menjadi kebiasaan orang muda di lingkungannya.

“Alasan awal karena ingin menyelamatkan anak-anak dan remaja lingkungan sekitar yang  masih terpengaruh dengan kebiasaan miras, maka Sandalwood hadir sebagai wadah sehingga mereka  bisa  mengeksplor kemampuan mereka dengan bebas sesuai minat dan bakat masing-masing”, jelas Filho ketika di minta keterangan.

Selain sebagai wadah untuk memberdayakan kaum muda, tentu salah satu tujuan utamanya adalah belajar dan melestarikan budaya Nusantara lewat segala aktifitas seni, sedangkan nama Sandalwood itu sendiri berasal dari bahasa Inggris yang artinya Cendana.

“Kami mengambil kayu cendana  dalam istilah Bahasa Inggris dengan filosofi bahwa kayu cendana akan terus mewangi ketika api terus membakarnya,  kita percaya kemampuan yg terus diasah lambat laun akan menjadi sebuah karya baik yg bisa dinikmati banyak orang”, jelas Filho.

Sanggar yang kini telah menjadi binaan  Kodim 1618 itu sudah bertambah jumlah anggota kurang lebih mencapai 50 orang  dan  telah tampil di beberapa kota di pulau Timor diantaranya Kota Atambua kabupaten Belu, kota Soe kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Ibu Kota Propinsi.

Filho berharap agar setiap orang terutama generasi muda sebagai generasi penerus dapat menjadi duta budayanya sendiri sebagai sebuah upaya pelestarian terhadap budaya warisan leluhur.

“Harapan kami semoga kita semua dapat menjadi duta budaya untuk masin-masing-masing budaya kita terutama anak muda, kenapa?  karna dengan demikian kita telah menjaga  dan melestarikan harta warisan leluhur agar tidak punah dimakan zaman”, Harap Filho.

Filho dan kawan-kawannya bermimpi besar ingin suatu saat kabupaten TTU menjadi Kota Seni dan masyarakat yang produktif dengan Karya-karya seni yang menjadi daya tarik bagi dunia.

Penulis *Barros*
Editor *Beatrix Yunarti*

Previous post Bakso Batok Malang Hadirkan Menu Baru
Next post ESENSI AMRKETING: LEBIH DARI SEKADAR IKLAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.