HUJAN NOVEMBER MEMANISKAN KENANGAN MERKURIUS

Ino Sengkoen

Barangkali waktu memang kejam membangun tembok jarak ketika ada yang akan pergi dan ada harus yang tertinggal. Satu-satunya sarana untuk memanjati tembok itu adalah kenangan. Dan tangga kenangan adalah sesuatu yang rapuh. Orang mudah terjatuh, entah pada sakitnya romantisme yang tak dapat diulang kembali ataukah ketegasan masa depan yang mesti disongsong tanpa bisa dielak. Tetapi hujan bulan November yang menumbuhkan merah pada pucuk-pucuk pohon flamboyan selalu terasa manis membahasakan pengharapan.

“Kapan kak mau pulang?”

“Setelah semua urusan ini selesai, Nona.”

“Kalau tidak ada urusan yang tertinggal, berarti kak sonde[i] akan datang lagi.”

Wajah perempuan itu dipalingkan dari posisi semula dengan sedikit pahatan cemberut. Namun Merkurius paham, gelagat seperti itu adalah tanda sedang ingin dimanja. Maka dia balas kecemberutan itu dengan senyum. Tangan kanannya dilayangkan dan mendarat lembut pada kepala perempuan yang duduk di sampingnya itu. Dengan sedikit tekanan, dia goyangkan kepala perempuan itu. Rupanya benar, perempuan memang adalah makhluk yang pandai menciptakan paradoks.

Seperti biasanya, suasana di sekitaran Taman Krida ramai. Tukang parkir sibuk merapikan motor yang ditinggal begitu saja oleh pengemudinya. Hampir tidak ada pemilik jualan kali lima yang menganggur. Entah berapa banyak rombongan pengamen yang lalu lalang. Malam minggu seperti ini, Jalan Sukarno-Hata adalah tempat nongkrong yang seru. Kau bisa saksikan dengan jelas bagaimana warga kota ini menumpahkan penat kerja selama seminggu di berbagai lesehan yang terhampar di sana. Orang ingin merasakan malam yang tanpa beban pekerjaan dan menikmati betapa hidup menyediakan banyak ruang dan waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan tugas-tugas kantoran ataupun perkuliahan.

Dan tepat berhadapan dengan gerbang masuk Rumah Sakit UB, tangan kanan Merkurius membelai rambut perempuan itu, setelah sebelumnya kepala perempuan itu digoyang-goyangkannya dengan manis.



Previous post LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT
Next post O’Riordan, Zombie dan Generalisasi Sosial.